Close X
rss feed
twitter


Morning Gaysss...!! Kali ini all's well akan sharing dan berbagi tentang perangkat kurikulum 2013 yakni SILABUS dan Rencana Pembelajaran (RPP) dan Penilaian yang saat ini marak menjadi buah bibir/perbincangan di antara sekolah/madrasah khususnya SD/MI sederajat, namun demikian tak sedikit dari beberapa SD/MI yang sampai saat ini belum mampu mengpalikasikan/membuat perangkat dimaksud oleh karena belum memahami sepenuhnya hal tersebut, ditambah lagi belum meratanya program pelatihan dan workshop seputar kurikulum tersebut pada SD/MI diseluruh Indonesia. Nah untuk itu, sebagai bahan rujukan Bapak/Ibu, tak ada salahya untuk memiliki dokumen Silabus dan RPP yang all's well berikan kali ini,....yahhh itung-itung dapat dijadikan sebagai bahan persiapan menyongsong tahun pelajaran baru 2014/2015...hehehe...Oke gann langsung ke TKP ajee...diunduh filenya. Nanti agan akan diarahkan pada 4shared untuk proses unduhan/download, ikuti aja seperti biasanya yehh... setelah selesai proses downloadnya jangan lupa ekstrak dan masukkan pasword dibawah ini untuk membukanya yahh...
 

PASWORD: ansud-site.blogspot.com

 
RPP KELAS 1
RPP_SD-MI_KELAS_1_SEMESTER 1 Tema diri sendiri  jujur tertib
RPP  SD KELAS 1  SEMESTER 1 Tema Kegemaranku
RPP_SD-MI_KELAS_1_SEMESTER_1  Tema Kegiatanku
RPP_SD-MI_KELAS_1_SEMESTER_1 Tema Keluargaku 
RPP_SD-MI_KELAS_1_SEMESTER_2_Tema Pengalamanku
RPP_SD-MI_KELAS_1_SEMESTER_2_Tema lingkungan bersih dan sehat
RPP_SD_KELAS_1_SEMESTER_2_Tema Benda, Binatang dan Tanaman

RPP_SD-MI_KELAS_1_SEMESTER_2_Tema peristiwa alam

RPP KELAS 2
RPP SD-MI_KELAS_2_SEMESTER 1 Tema Hidup Rukun
RPP SD-MI_KELAS_2_SEMESTER_1 Tema Bermain di lingkunganku
RPP SD-MI_KELAS_2_SEMESTER_1_Tema tugas sehari-hari
RPP SD-MI_KELAS_2_SEMESTER_1_Tema Aku dan Sekolahku
RPP SD-MI KELAS_2_SEMESTER 2_Tema hidup sehat dan bersih
RPP SD-MI_KELAS_2_SEMESTER_2_Tema air bumi dan matahari
RPP SD-MI_KELAS_2_SEMESTER_2_Tema Merawat Hewan dan Tumbuhan
RPP SD-MI KELAS_2_SEMESTER_2_Tema keselamatan di rumah dan perja


RPP KELAS 3
RPP_SD-MI_KELAS_3_SEMESTER_1_Tema Sayangi Hewan dan Tumbuhan
RPP_SD-MI_KELAS_3_SEMESTER_1_Tema Pengalaman yang Mengesankan
RPP_SD-MI_KELAS_3_SEMESTER_1_Tema Mengenal Cuaca dan Musim
RPP_SD-MI_KELAS_3_SEMESTER_1_Tema Ringan Sama Dijinjing Berat Sama dipikul
RPP_SD-MI_KELAS 3_SEMESTER 2_Tema mari bermain dan berolahraga
RPP_SD-MI_KELAS 3_SEMESTER 2_Tema indahnya persahabatan
RPP_SD-MI KELAS 3_SEMESTER 2_Tema mari kita berhemat untuk masa
RPP  SD-MI KELAS 3_SEMESTER 2_Tema berperilaku baik dalam kehidupan


RPP KELAS 4
RPP_SD-MI_KELAS_4_SEMESTER_Tema Indahnya Kebersamaan
RPP_SD-MI_KELAS_4_SEMESTER_1_Tema Selalu Berhemat Energi
RPP_SD-MI_KELAS_4_SEMESTER_1_Tema Peduli terhadap Makhluk Hidup
RPP  SD/MI KELAS_4_SEMESTER_1_Tema Berbagai Pekerjaan
RPP_SD-MI KELAS 4_SEMESTER 2_Tema Menghargai Jasa Pahlawan
RPP  SD-MI KELAS 4_SEMESTER 2_Tema Indahnya Negeriku
RPP  SD-MI KELAS 4_SEMESTER 2_Tema Cita-citaku
RPP_SD-MI KELAS 4_SEMESTER 2_Tema daerah tempat tinggalku



RPP KELAS 5
RPP_SD-MI_KELAS_5_SEMESTER_1_Tema Bermain dengan Benda-benda disekitarnya
RPP  SD-MI  KELAS 5_SEMESTER 1_Tema peristiwa dalam kehidupan
RPP_SD-MI_KELAS_5_SEMESTER_1_Tema Hidup Rukun
RPP_SD-MI_KELAS_5_SEMESTER_2_Tema Bangga Sebagai Bangsa Indonesia
RPP_SD-MI_KELAS_5_SEMESTER_2_Tema Sehat Itu Penting


RPP KELAS 6
RPP_SD-MI_KELAS_6_SEMESTER_1_Tema Bhinneka Tunggal Ika
RPP_SD-MI_KELAS_6_SEMESTER_1_Tema Selamatkan Makhluk Hidup
RPP_SD-MI_KELAS_6_SEMESTER_1_Tema Tokoh dan Penemu
RPP_SD-MI  KELAS 6_SEMESTER 2_Tema globalisasi
RPP  SD-MI  KELAS 6_SEMESTER 2_Tema wirausaha
RPP_SD-MI  KELAS_6_SEMESTER_2_Tema Kesehatan Masyarakat


SILABUS KELAS 1-6
Silabus_Kurikulum_2013_Kelas_1
Silabus_Kurikulum_2013_Kelas_2
Silabus_Kurikulum_2013_Kelas_3
Silabus_Kurikulum_2013_Kelas_4
Silabus_Kurikulum_2013_Kelas_5
Silabus_Kurikulum_2013_Kelas_6


Download Format Penilaian
Sistem_Penilaian_Kurikulum_2013



Demikian postingan akali ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, jika agan merasa dokumen ini bemanfaat silahkan dishare juga ke teman-teman yang lainnya.oke...
Nantikan postingan all's well berikutnya....(SALAM PENDIDIKAN)..!!

 
Badan Kepegawaian Negara (BKN) memastikan bahwa 123 pemerintah daerah dan sembilan instansi pusat tidak mendapatkan tambahan formasi aparatur sipil negara (ASN). Kepastian itu mengacu pada keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) perihal persetujuan tentang penambahan ASN tahun 2014.
“Dalam proses rekruitmen CPNS 2014 ada beberapa K/L (kementerian/lembaga, red) dan daerah yang tidak mendapat alokasi formasi,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Badan Kepegawaian Negara (BKN) Tumpak Hutabarat, Selasa (22/7).

Dipaparkannya, sesuai Surat Menteri B-2550/M.PAN-RB/06/2014 tanggal 20 Juni 2014 perihal Persetujuan Prinsip Tambahan Formasi ASN Tahun 2014, maka untuk formasi jabatan pelaksana (jabatan fungsional umum) harus memuat kualifikasi pendidikan, golongan/ruang, jumlah, dan alokasi untuk masing-masing jabatan (unit kerja penempatan). Sedangkan untuk formasi jabatan fungsional (jabatan fungsional tertentu) harus memuat jenjang jabatan, kualifikasi pendidikan, golongan/ruang, jumlah, dan alokasi untuk masing-masing jabatan (unit kerja penempatan).

Sedangkan 9 K/L yang tidak memperoleh alokasi ASN 2014 antara lain Kementerian Koperasi dan UKM, KemenPAN-RB, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Lembaga Pengetahuan Ilmu Indonesia (LIPI), Badan Pengawas Teknik Nuklir, Kepolisian Negara RI (Polri), Sekretariat Jendral DPR-RI dan Sekretariat Komisi Nasional HAM. Sementara 123 daerah yang tak mendapat alokasi tambahan tersebar di 29 provinsi.
Terkait alokasi tambahan formasi untuk pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), Tumpak mengatakan bahwa prioritasnya untuk mengisi kebutuhan yang menunjang akselerasi pencapaian tujuan atau sasaran organisasi sebagaimana regulasi yang berlaku.(esy/jpnn)

Pemberkasan nomor induk pegawai (NIP) calon pegawai negeri sipil (CPNS) dari saringan tenaga honorer kategori 2 (K-2) tidak berjalan mulus. Sejauh ini baru 35 persen dari total honorer K-2 yang lulus ujian. Alhasil, banyak daerah minta waktu tambahan mengurus NIP ke Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Data dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) menyebutkan, tenaga honorer K-2 yang mengikuti ujian berjumlah 608.814 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 209.719 orang dinyatakan lulus Posisi pada akhir Juni lalu, NIP yang keluar baru 25 persen atau sekitar 52.429 NIP.

"Sekarang sudah 35 persen NIP yang dikeluarkan BKN," kata Kepal Biro Humas dan Protokol BKN Tumpak kemarin. Dengan posisi 35 persen itu, berarti CPNS dari kelompok honorer K-2 yang sudah memiliki NIP sekitar 73.400 orang.
Tumpak mengakui pengurusan NIP bagi para CPNS yang asalnya tenaga honorer K-2 sangat lama. "Kita bahkan sampai perpanjang tiga kali," katanya.
Perpanjangan pengurusan NIP mewajibkan pemberkasannya tuntas pada Juni lalu. Ketika sudah ditutup, banyak instansi pusat maupun daerah yang belum mengajukan pemberkasan NIP.

Akhirnya BKN mengeluarkan kebijakan khusus. Yakni, meminta instansi  menulis surat resmi perpanjangan validasi data. Dalam surat itu harus dicantumkan kapan mereka menuntaskan validasi dat. BKN memberi batas maksimal perpanjangan akhir pengurusan hingga September.

Beragam alasan menjadi dasar permohonan perpanjangan waktu. Di antaranya adalah banyak kepala daerah yang baru dilantik. Karena itu, mereka melihat ulang data-data honorer K-2. Pejabat pembina kepegawaian daerah (bupati, wali kota, atau gubernur) bisa dijerat tindak pidana dan sanksi adminsitrasi jika meloloskan tenaga honorer palsu.(wan/ca)

 
Meski babak milenium II membuka ruang begitu besar kepada aspek psikomotorik siswa, namun masih saja dirasakan sebagian kalangan terasa kurang. Ini terbukti beberapa fakta bagi siswa-siswi dari tingkatan (SD, SLTP, SLTA) masih saja didominasi oleh kecerdasan intektual (IQ). Bahkan dalam satu pristiwa hampir dirasakan oleh banyak orang tua wali, anak-anak (peserta didik) lebih senang terhadap hal-hal efisien, cepat dan praktis. Seperti banyak pengguna internet dari level peserta didik—dan yang paling mencengangkan mereka sering kali mengakses situs-situs atau keyword jejaring sosial—bukan situs edukatif. 

Hipotesis di atas bukan untuk mengeneralkan sebuah kompleksitas pendidikan di Indonesia, namun itu faktanya, kita tidak bisa menolak. Lalu bagaimana meminimalisir agar sarana pembelajaran yang notebene-nya lebih berorientasi pada intelligence quotient (IQ)— seimbang dengan emotional quotient (EQ) maupun spiritual quotient (SQ). Tak lain dengan memperkaya pola pembelajaran kepada peserta didik, merupakan sesuatu yang urgent. Kenapa? Karena pada tingkat pembelajaran secara kreatif baik guru, orang tua dan peserta didik diikutsertakan, baik langsung maupun tidak. Selain itu juga pembelajaran secara kreatif tidak melulu bertumpu pada IQ, tetapi lebih konvergensi terhadap intelktual, emosial, spiritual dalam tataran imaginatif. 

Metode belajar kreatif juga mendorong anak lebih berani bertanya atau mengemukakan pendapat siswa, jadi sangat tidak disangsikan lagi kalau belajar maupun pembelajaran secara kreatig perlu digalakan sejak dini kepada anak-anak.  Memang seperti yang terlihat, metode belajar kreatif telah digalakan digalakan, tetapi itu hanya di tingkat perguruan tinggi. Itu memicu beberapa persoalan pada anak ke depan nanti. Selain bisa dikatakan terlambat itu juga bisa merusak potensi keberanian seorang anak kedepannya nanti.

Dalam kaitannya antara peserta didik dengan guru, perlu kiranya upaya sinkronisasi dengan bertumpu pada kreatifitas mengajar seorang guru di sekolah maupun di lembaga social lainya, seperti di rumah, lingkungan dan sebagainya. Hal itu dilakukan tak lain demi terkuaknya imaginasi seorang anak ketika melihat gurunya mengajar secara kreatif. Di mana imaginasi akan hadir secara bersamaan ketika anak didik memotret gambaran kreatifitas seorang guru. Ini tidak melulu selalu seorang guru mendikte kepada anak didiknya untuk belajar secara kreatif. Lebih dari itu. 

Jika kita menelaah lebih dalam menurut Elizabeth B. Hurlock, pembelajaran kreatif merupakan upaya kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan yang ada pada dasarnya baru da sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mencakup pembentukan pada hal baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat berbentuk produk seni, kesusteraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis.
 
Sebagai langkah aplikatif sejak dini dalam mengatasi persoalan di atas, maka diperlukan Pertama, spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku peserta didik dengan melatih imaginasi pola membaca, menghitung, menulis dan menggambar. Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan selektif untuk mencapai sasaran bagaimana cara guru/orang tua memandang sesuatu persoalan, konsep, pengertian dan teori apa yang guru gunakan dalam memecahkan satu kasus, akan mempengaruhi hasilnya. Jadi pemilihan metode yang tepat mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif. Pemilihan dan penetapan metode yang tepat dapat memotivasi anak didik agar dapat memecahkan masalah, karena pemilihan metode yang monoton akan membuat siswa merasa jenuh atau bosan. Keempat, menerapkan norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru/orangtua memiliki pegangan yang dijadikan ukuran untuk menilai sejauh mana keberhasilan tugas yang telah dilakukan.

Ed. Shinta Rahmawati, Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif, (Jakarta: Kompas, 2001) , hal. 21
Elizabeth B. Hurlock. Perkembangan Anak. Dialih bahasakan Oleh Meitasari Tjandrasa dari Child Development. (Jakarta: Erlangga, 1993), Cet. IV, hal. 3
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT.Rinela Cipta, 2002), Cet. II, hal. 6-8.

https://scontent-b.xx.fbcdn.net/hphotos-xpa1/t1.0-9/1464765_569314006473038_876807609_n.jpg 
Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.

Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.

Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.

Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.

Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.

Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.

Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.

Sumber: edukasi.kompasiana.com
Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.

Tukaran Link Yuk..!!